Sebagian kita mungkin tidak menyadari! Mau seberapa lama sosoknya pergi, entah kenapa kita selalu merindukannya untuk kembali. Apakah mungkin karena kehadirannya selalu bisa merubah haru menjadi tawa. Atau karena kita tahu, bahwa dibalik sosoknya kita dapat kembali bersuci atas segala kelalaian dan juga dosa? Entahlah kenapa alasannya, tapi kita selalu merasa riang ketika ingin berjumpa dengannya walaupun tau akan ada hari-hari yang penuh dengan lelah

Ramadan selalu bisa membawa kita kepada kemauan yang kuat untuk rajin beribadah. Ladangnya yang luas selalu terhampar bagi mereka yang ingin menanam berjuta-juta kebaikan, untuk mereka dapat menuai sebuah ridho dari Allah Yang Maha Pemurah. Tak heran jika Mu’alla bin Fadhl pernah berkata, “Dahulu para salaf selalu berdo’a agar mereka diperkenankan berjumpa dengan bulan Ramadan, semenjak enam bulan sebelum datangnya bulan tersebut. Kemdian jika bulan Ramadan telah berlalu, mereka akan terus berdoa selama enam bulan agar Allah senantiasa menerima segala amal ibadah mereka selama di bulan Ramadan.”

Mungkin dengan tulisan ini aku ingin sedikit berbagi, tentang apa yang bisa aku petik dari kajian beberapa hari yang lalu. Syaikh Syuwair -hafidzhahullah- menyampaikan, setidaknya ada dua perkara dasar yang harus kita jaga dalam menyambut bulan Ramadan. Ketahuilah teman, diantara dua perkara itu adalah niat, niat, niat dan berkemuan kuat untuk selalu menjaga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“وكان إمام أحمد رحمه الله تعالى يقول لابنه, “يا بنيّ انو الخير! فإنك ما تزال بخير ما نويت Imam Ahmad -rahimahullah- berkata (atau berwasiat) kepada putranya, “Wahai anakku tercinta, berniat baiklah dalam setiap perkara. Karena sesungguhnya kamu akan selalu berada diatas kebaikan selama engkau selalu berniat baik.

Dalam sebagian riwayat dikatakan, bahwa jika niat seseorang akan lebih berpengaruh dari pada amal apa yang akan ia perbuat. Seperti yang kita ketahui jika seseorang mungkin sedang berada dalam kesibukan, atau dalam keadaan sakit atau apa pun itu yang menjadi penghalang orang tersebut untuk dapat melakukan sebuah amal kebaikan, sesungguhnya Allah tetap akan memberikan pahala sebagaimana orang tersebut telah memiliki keinginan yang kuat untuk dapat berbuat baik. Pen-pendapat beliau serupa dengan hadist shahih. Baihaqi no. 6784 Musnad Imam Ahmad no. 6895. Shohih Targhib, Albani no. 3421.

Di sini teman, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Syaikh -hafidzhahullah- mengingatkan, dalam mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadan hendaknya seseorang mengetahui tentang amalan apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’aala. Sehingga kita dapat mempersiapkan niat-niat yang baik ketika bulan yang suci itu datang membersamai segala keberkahan yang telah Allah persiapkan di dalamnya.

Pertama adalah puasa, sebagaimana puasa Ramadan merupakan ibadah yang hukumnya wajib dan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Jadi, amalan yang paling utama untuk kita niatkan dengan sebaik-baiknya adalah puasa. Kemudian amalan yang kedua adalah qiyamul lail, atau yang biasa kita terjemahkan ke bahasa kita dengan sholat malam. Amalan yang paling khas di dalam bulan ini, kita selalu bersenang ria dalam menyambutnya, amalan yang merupakan salah satu dari sholat malam kita adalah sholat tarawih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang di dalam hadis shohih yang maknanya, “Barang siapa yang menegakkan sholat malam karena keimanan (dengan ikhlas), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” Jadi teman-teman, persiapkanlah niat yang baik demi menyambut qitamul lail. Dari sekarang, mulailah secara perlahan untuk sedikit memperpanjang sholat-sholat yang sunnah. Nikmatilah kebersamaan bersama Yang Maha Pengasih tatkala dikau tegak dalam sembahyang.

Tentu teman-teman, masih banyak amalan lain yang syaikh paparkan agar sekiranya kita mempersiapkan niat yang baik sebelum mengerjakannya. Diantara amalan-amalan itu adalah seperti tilawah Al-Qur’an, bei’tikaf di masjid dan lain sebagainnya. Hanya saja sepertinya ruang dan waktu yang tidak memungkinkan untuk aku menerangkan semuanya secara lengkap. Semoga Allah selalu mengampuni hamba yang penuh dosa ini. Tapi teman, izinkan aku menyampaikan sedikit faedah dari syaikh, yang mana rasa-rasanya diri ini telah lama terlalaikan dari memahaminya. Teman! Disamping banyaknya ibadah-ibadah yang telah kita tegakkan, pernakah sekali-kali kita bertanya,

“Dimana rasa nikmat dari ibadah ini?”

“Dimana kelezatan ketika diri ini menghadap Tuhan?”

Ketahuilah teman, setidaknya ada dua amalan yang dapat mengantarkan kita kepada kenikmatan menghamba kepada Dia Yang Maha Sempurna. Dialah Tuhan yang memiliki segalanya, Tiada Tuhan selain Dia. Ketahuilah teman, dengan bersihnya hati dari iri, benci dan dengki kita akan semakin merasa nikmat ketika berbadah kepada-Nya. Maka dari itu, Nabi pernah memberitahu kepada para sahabat bahwa seorang laki-laki yang sedang melintas di hadapan mereka merupakan sosok penghuni surga. Maka ketika itu Abdullah bin Amr bin ‘Ash ingin mengetahui sebenarnya apa yang laki-laki amalkan hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifatinya dengan sosok penghuni surga. Abdullah bin Amr pun meminta izin untuk bermalam bersamanya dengan alasan, “Sesungguhny aku sedang bertengkar dengan kedua orangtuaku.” Tapi ternyata tiada sekitpun perbedaan antara Abdullah bin Amr dengan orang yang diperhatikannya dalam kelebihan segi amalan. Hingga pada suatu hari terungkaplah, bahwa ternyata orang ini tidak pernah sekalupun tertidur kecuali ia selalu mengampuni kesalahan orang lain. Tidak ada yang tersisa di dalam hatinya kecuali rasa cinta terhadap sesama.

Setelah itu, ketahuilah kawan! bahwa salah satu amalan yang dapat mendatangkan kelezatan dalam sepanjang hidup kita dalam beribadah adalah sebuah rahasia. Ya! kamu harus memiliki suatu kebaikan yang menjadi rahasia, dimana tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali engkau dan Tuhan Yang Maha Esa. Renungkanlah teman, apakah engkau hanya ingin menyimpan sesuatu yang hina antara engkau dengan Dia, Tuhan Yang Maha Sempurna. Tidaklah layak jika seorang muslim hanya menyimpan dosa-dosa, yang mana Allah Subhanahu wa ta’aala telah menutupinya dari sejuta pandangan manusia. Semoga di bulan yang penuh berkah ini kita dapat optimis dalam meraih ampunan Allah Yang Maha Pemurah. Semoga kita selalu diberkahi hidayah dan ma’unah-Nya. Semoga bisa bermanfaat, semoga kita dapat kembali bersuci dengan datangnya Ramadan yang hanya tinggal menghitung hari.

Oh iya teman, mungkin disini juga bisa kembali mengulang pelajaran tentang bagaimana hukumnya berpuasa di Bulan Sya’ban. Syaikh menjelaskan, setidaknya ada 3 hukum berpuasa di Bulan Sya’ban menurut para ulama jika kita ingin membahasnya secara menyeluruh. Tentu Syaikh -hafidzhahullah- menjabarkannya dengan dalil-dalil (referensi) yang bisa kita pegang kredibilitasnya, dalil-dalil yang bersambung kepada manusia yang paling mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi **mungkin kita akan membahasnya secara singkat saja teman. Hukum yang pertama adalah wajib. Puasa di Bulan Sya’ban bisa menjadi wajib ketika seseorang belum mengqadha’ atau membayar denda puasa Ramadan di tahun sebelumnya. Hukum kedua adalah mustahab atau sunnah. Yaitu bagi mereka yang telah membiasakan diri untuk berpuasa dari awal Bulan Sya’ban ataupun sebelumnya. Kemudian hukum yang terakhir adalah makruh, yaitu ketika seseorang berpuasa dari setengah kedua Bulan Sya’ban, sedangkan pada hari-hari sebelumnya ia tidak memiliki rutinitas untuk berpuasa. Perlu diingat teman, aku disini hanya meringkas perkataan beliau tanpa menjabarkannya secara menyeluruh. Terkait hukum yang terakhir, sebagian ulama ada yang berpendapat haram sebagaimana teman-teman bisa merujuk sendiri ke video yang sudah aku sediakan linknya diatas.